Malam ini terpaksa pulang telat lagi. Deadline tugas keesokan hari memaksa diri harus berlama-lama di lab komputer. Hingga akhirnya mendapatkan kereta ekonomi sebelum yang terakhir sebagai transportasi pulang ke rumah.
Suasana gerbong sunyi sepi, tak lebih dari 20 orang di tiap gerbong. Tiduran saja bisa, pikirku, yang mulai mengantuk dan merindukan kasur di rumah. Sebelum sampai di stasiun dekat rumah, lamunanku terpecah oleh suara seorang nenek.
Suasana gerbong sunyi sepi, tak lebih dari 20 orang di tiap gerbong. Tiduran saja bisa, pikirku, yang mulai mengantuk dan merindukan kasur di rumah. Sebelum sampai di stasiun dekat rumah, lamunanku terpecah oleh suara seorang nenek.
"Ini sudah sampai tebet ya?" Tanya seorang nenek kepada gadis yang duduk di depanku. Sang gadis memberi jawaban dengan suara yang tidak begitu jelas karena jarak mereka cukup jauh. Karena nenek tersebut duduk si sebelahku, inisiatif aku menjawab "Bukan nek, Tebet masih 3 stasiun lagi"
"Oh, masih 3 stasiun lagi? masa sih?" ragu sang nenek.
"Iya Nek, habis ini stasiun Duren Kalibata, Cawang, lalu baru stasiun Tebet. Jadi masih tiga stasiun lagi" jelasku.
"Oh, dulu pernah kelewatan gara-gara gak bisa turun sudah keburu jalan lagi keretanya!" Tambah sang nenek. Memang di usianya harus persiapan lebih baik untuk bisa turun kereta dengan aman.
Karena ini stasiun tempat ku turun, maka segera kurapihkan barang-barang. Ketika akan berdiri, sang nenek kembali bertanya "Sudah mau turun ya? Kuliah dimana? di UI?". "Ya!" jawabku singkat. Aku jadi duduk kembali saat sang nenek memegang bahuku dan berkata:
"Nak, masa depan bangsa ini ada di tanganmu!. Jangan sampai kena Narkoba ya!"
"InsyaAllah Nek!" Jawabku. Lalu nenek mengucapkan salam dan akupun membalasnya sambil melangkahkan kaki keluar kereta.
Sembari jalan menuju rumah, akupun memikirkan kata-kata sang nenek. Untuk mencapai usianya, tentunya ia telah lama melihat dunia ini dengan realita yang ada. Hal ini seharusnya menyadarkan kita para pemuda bahwa harapan mereka para orang tua tetap dipercayakan sepenuhnya ke kita. Hakikat kita mengenyam pendidikan juga tak lain adalah untuk memajukan bangsa. Bukan sekedar untuk mencari kerja. Dari nasehat nenek juga terucap musuh peradaban kita, itulah narkoba. Dengan pesan singkatnya tapi begitu mendalam sang nenek me wanti-wanti kita agar jangan sampai terjerat lingkaran narkoba. Karena sudah banyak kepribadian yang rusak, tali persaudaraan yang putus, dan bahkan nyawa yang hilang karena narkoba.
Semoga kita bisa dapat bersama-sama mengamalkan nasihat sang nenek dan memenuhi harapanya.
malam ini sunyi sepi
ku sendiri belum ada teman
namun sesungguhnya ku selalu ditemani arti
di setiap detak waktu yang berjalan
sepatah nasehat memecah keheningan
nasehat nenek sebelum pulang
temukan hakikat kehidupan
yang kini mulai menghilang
ada harapan
ada peringatan
tentang amanah peradaban
untuk pemuda
untuk masa depan
:: spora pemikiran Ridho untuk dunia

0 komentar:
Post a Comment